Pages

RSS

Jatuhnya Popularitas Musik Indonesia

GIMANA SIH PERKEMBANGAN MUSIK DI TANAH AIR KITA?

          Akhir-akhir ini saya sering melihat kemudian membacanya (tidak hanya melihat) artikel ataupun yang hanya sebuah komentar para penikmat musik tanah air, mengatakan bahwa yang intinya mereka itu kurang menikmati musik Indonesia di jaman sekarang (antara tahun 2008-saat in). Tidak hanya orang biasa saja yang mengatakan demikian, tapi para musisi papan ataspun juga berkomentar demikan.
           Mungkin jika kita lihat dari segi audio, kualitas musik Indonesia jaman sekarang dikatakan dibawah kualitas musik barat era 80-90an. Kemudian jika kita lihat mengenai fill in para personil pemusik Indonesia jaman sekarang, rasanya kurang 'nggreget' di telinga daripada pemusik Indonesia era 90an. Mungkin itu salah satu penyebabnya mengapa musisi papan atas terutama musisi era 90an mulai angkat bicara.
      Ada satu hal lagi yang mungkin juga salah satu penyebab turunnya kualitas musik ndonesia, yaitu masalah bisnis. Disini peran para produser rekaman label-label besar di Indonesia sangat berperan penting dalam pemasaran dan juga seberapa besar kepopuleran artis yang dipegangnya. Para produser lebih mengedepankan strateginya tentang bagaimana caranya semua hasil karya dari penyanyi/band yang dikiperinya mampu menembus pasar target sebanyak-banyaknya, daripada mengedepankan kualitas dari hasil karya-karya mereka.
         

 Walaupun memang tidak semua penyanyi/band memiliki kualitas yang menurun, tapi setidaknya mereka mau membandingkan karya mereka sendiri dengan karya-karya seniornya. Mereka para musisi senior yang sampai sekarang masih berkarir dapat kita jadikan motivator untuk berkarya seindah mungkin, karena kita adalah tunas seniman musik anyar yang bakal meneruskan karir mereka. Dan untuk para pemusik jaman sekarang, marilah berintrospeksi ria, berfikir sejenak "apakah hasil karya kita lebih mengedepankan gampangnya kepopuleran semata atau mengedepankan kualitas hasil karya kita sendiri?". Setidaknya mereka para senior sudah membuktikan kualitasnya di Indonesia maupun di kancah Internasional.
Kira-kira sepuluh tahun yang lalu, ketika mayoritas dari kita masih berjuang di sekolah dasar, band-band Indonesia jauh lebih berkualitas dari saat ini.

Pernyataan di atas memang sangat subjektif, karena kualitas adalah hal yang relatif bagi setiap orang. Memang ada juga yang menganggap era musik ‘alay’ saat ini lebih berkualitas dari musik di masa sebelumnya, tapi untuk kemudahan hal ini saya kesampingkan terlebih dahulu.


Berikut adalah band-band yang populer di Indonesia sekitar 10-15 tahun yang lalu: Dewa, Sheila on 7, Padi, Jikustik, dan Gigi. Sementara band-band yang populer dalam beberapa tahun terakhir: ST 12, Wali, Kangen, dll. Dalam satu tahun terakhir bahkan blantika musik Indonesia lebih didominasi boyband dan girlband seperti: SM*SH, XO9, Cherrybelle, 7 Icon, dll. Mari kita samakan persepsi terlebih dahulu bahwa band-band 10-15 tahun terakhir lebih berkualitas dari band-band yang populer akhir-akhir ini.

Menurut saya, penurunan kualitas ini dapat dijelaskan dari sudut pandang ekonomi. Saya akan coba mengungkap alasan terjadinya penurunan kualitas dengan membedakannya menjadi faktor pendorong dan faktor penarik.

Yang saya maksud dengan faktor pendorong adalah berkurangnya permintaan akan musik Indonesia berkualitas. Penjelasannya kira-kira seperti ini. Permintaan akan musik Indonesia berkualitas lebih banyak dilakukan oleh warga menengah ke atas. Mereka ini yang 10-15 tahun yang lalu banyak membeli kaset dan CD musik di toko-toko seperti Disctara, Aquarius, Sangaji, dll. Dari sinilah pendapatan utama pemusik dan record label. Belakangan ini seiring dengan perkembangan teknologi, pengunduhan musik dari internet menjadi hal yang sangat mudah dilakukan, apalagi oleh kelas menengah ke atas. Akibatnya, memasarkan musik berkualitas ke orang-orang menengah ke atas tidak lagi menguntungkan, karena tidak akan ada yang bisa bersaing melawan musik gratis yang tersedia dengan mudahnya di dunia maya.

Sementara itu, faktor penarik adalah meningkatnya permintaan akan musik yang kurang berkualitas. Ini terjadi karena adanya peningkatan jumlah kelas menengah di Indonesia; peningkatan pendapatan nasional berakibat pada berpindah kelasnya banyak orang dari kelas miskin ke kelas menengah. Ini membuka pasar baru yang sangat menguntungkan bagi industri musik: pasar Ring Back Tone (RBT). Selain itu, acara-acara promosi bagi musik kurang berkualitas di televisi seperti Dahsyat, DeRings, dan Inbox juga menjadi menguntungkan karena masyarakat kelas menengah baru yang kini memiliki pesawat televisi di rumah mereka.

Kedua faktor ini berimplikasi bahwa akhir-akhir ini jauh lebih menguntungkan untuk memproduksi musik yang kurang berkualitas dibanding yang lebih berkualitas. Maka dari itu, tidaklah mengherankan jika saat ini kita dibanjiri musik-musik yang cenderung alay. 

Sebab musik Indonesia yang semakin lama tenggelam
Banyak penyebab yang menyebabkan musik Indonesia semakin lama menghilang seakan ditelan oleh zaman. Berikut ini adalah penyebabnya :
• Media lokal lebih banyak menayangkan budaya global yang lebih modern dan lebih menarik tanpa memperdulikan budaya lokal.
• Tidak ada pembaharuan pada budaya lokal seperti pengemasan dalam pentas, sehingga banyak masyarakat yang bosan dengan budayanya sendiri.
• Media hanya memperhitungkan bisnis semata demi mendapatkan untung yang besar tanpa melihat faktor budaya tulent
• Tidak ada kebijakan pemerintah terhadap media baik elektronik maupun non elektronik berkaitan dengan penayangan budaya lokal itu sendiri








  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Poskan Komentar